Anggaran TI (Information Technology Budgeting) 2

Biaya Langsung VS Biaya Tak Langsung (Direct Costs VS Indirect Costs)
Jika dalam sistem penganggaran biaya proyek dikenal tiga kategori komponen biaya maka dikenal pula dua jenis biaya, yaitu biaya langsung (direct costs) dan biaya tidak langsung (indirect costs).
Biaya Langsung (direct costs) antara lain adalah gaji/honor tenaga kerja, penyewaan peralatan, software dan pelatihan untuk anggota tim proyek. Dapat dikatakan bahwa setiap biaya yang dikeluarkan secara langsung untuk mengerjakan proyek dapat dikelompokkan sebagai jenis biaya langsung.
Biaya Tak Langsung (indirect costs) adalah pengeluaran dana yang tidak secara spesifik ditujukan untuk proyek seperti misalkan tim proyek Anda kemungkinan harus bekerja sama dengan karyawan lain di perusahaan yang bukan merupakan anggota tim proyek tersebut.
Maka biaya sewa gedung kantor perusahaan tersebut dapat dikategorikan sebagai biaya tak langsung (indirect costs) karena tidak secara khusus dihubungkan dengan proyek tersebut sejak seluruh karyawan perusahaan bekerja dalam gedung yang disewa tersebut.
Contoh lain dari biaya tak langsung adalah:
  • Honor staf administrasi
  • Manajer
  • Anggota fungsional proyek yang mungkin diperbantukan dalam mendukung tim pelaksana proyek menjalankan kegiatannya namun tidak memiliki penugasan khusus dalam proyek tersebut.
Untuk memastikan biaya tak langsung yang mungkin harus dikalkulasikan dalam penyusunan anggaran maka sebaiknya Anda berkonsultasi dengan bagian akunting atau keuangan.
Hal ini disebabkan masing-masing lembaga memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai prosedural penetapan biaya tidak langsung dalam sistem akuntansinya.
Maka sebaiknya Anda memastikan terlebih dahulu mengenai hal tersebut sebelum melakukan finalisasi atas anggaran yang disusun.
Kumpulkan Seluruh Dokumen (Gather the Docs)
Langkah pertama yang harus dilaksanakan dalam menyusun anggaran proyek adalah kumpulkan seluruh dokumen perencanaan dalam lembaga Anda sebagai referensi.
Dari dokumen yang dikumpulkan tersebut maka Anda akan mulai dengan melakukan peninjauan secara menyeluruh terhadap sasaran yang ingin dicapai oleh proyek dan didukung oleh sistem pembiayaan yang layak.
Kemudian pelajari daftar tugas/kerja, struktur penurunan dan pembagian kerja (work breakdown structure/WBS) serta diagram jaringan sistem kerja yang ada di lembaga Anda.
Catatlah setiap tugas atau komponen yang kemungkinan akan terkait dengan hal-hal tersebut dalam daftar Anda.
Selain itu masukkan jadual pelaksanaan kegiatan, daftar kebutuhan sumber daya serta grafik mengenai aturan-aturan maupun alur pertanggungjawaban tugas yang mungkin harus dimasukkan dalam komponen pembelanjaan dalam anggaran yang sedang disusun.
Jangan lupakan untuk memasukkan biaya sewa peralatan, fasilitas pendukung serta pembelanjaan material yang diperlukan dalam daftar tugas maupun elemen struktur penurunan dan pembagian kerja (WBS).
Setelah itu catatlah daftar rencana anggaran biaya Anda seperti misalkan dalam sebuah electronic spreadsheet file.
Sebaiknya demi mewujudkan pengelolaan yang benar, Anda harus menggunakan jadual pelaksanaan proyek dan mulai membuat prakiraan awal anggaran biaya atas masing-masing tugas yang ada dalam daftar jadual kerja.
Proses Penyusunan Anggaran (Budgeting Process)
Proses penyusunan anggaran adalah melakukan identifikasi atas kebutuhan sumber daya dan jadual pelaksanaan kegiatan proyek.
Proses tersebut antara lain meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Tinjau ulang setiap dokumen perencanaan untuk mendapatkan seluruh informasi atas material maupun sumber daya yang diperlukan
2. Menyusun prakiraan atas biaya-biaya yang timbul
3. Buatlah harga prakiraan sendiri (owner estimates) atas kebutuhan-kebutuhan tersebut
4. Catatlah hal-hal tersebut dalam anggaran
5. Dan terakhir adalah mendapatkan persetujuan atas anggaran yang telah Anda susun dan ajukan kepada para pemegang kebijakan di organisasi tempat Anda bekerja.
Sedangkan langkah-langkah yang dapat Anda ikuti untuk memproses anggaran adalah sebagai berikut:
1. Lakukan peninjauan ulang atas setiap dokumen perencanaan
2. Buatlah prakiraan biaya dan padukan dengan jadual pelaksanaan kegiatan
3. Masukkan dokumen rencana anggaran biaya tersebut kepada pihak berwenang dalam organisasi Anda untuk disetujui.
4. Beritahukan kepada setiap anggota tim kerja terkait serta para pemegang kebijakan saat dokumen rencana anggaran biaya tersebut disetujui.
5. Pastikan kode rekening akuntansi dari rencana anggaran tersebut ke dalam elemen-elemen struktur penurunan dan pembagian kerja (work breakdown structure/WBS).
6. Simpan data rencana anggaran tersebut dalam catatan proyek/kegiatan.
7. Sebagai seorang Manajer Proyek, Anda memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan perangkat yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek dengan baik dan benar dengan dukungan sumber daya yang tersedia.
8. Pada saat harus menyelesaikan kegiatan tersebut maka Anda memerlukan anggaran yang akurat yang akan digunakan sebagai pedoman dalam bekerja.
Komponen-Komponen Anggaran (Budget Items)
Berdasarkan pada jenis pembelanjaan, Anda perlu untuk mengidentifikasi setiap kebutuhan proyek dan mendokumentasikannya dalam prakiraan biaya.
Anda dapat menggunakan teknik yang sama untuk mengidentifikasi komponen anggaran sama seperti halnya mengidentifikasi pendistribusian dan pelaksanaan tugas.
Lakukan wawancara dengan setiap anggota tim proyek yang kemungkinan memiliki pengalaman tugas yang mirip sebelumnya, lakukan pembicaraan dengan para vendor atau buatlah rapat bersama anggota tim kunci maupun para pemegang kebijakan untuk memberikan masukan-masukan atas komponen biaya tersebut.
Untuk menghemat waktu, sebaiknya buatlah daftar komponen rencana anggaran biaya menurut bayangan Anda sendiri sebelum melakukan pertemuan dengan pihak-pihak tersebut di atas.
Strategi ini sangat baik untuk digunakan pada kegiatan-kegiatan proyek dengan skala kecil.
Anda dapat memperoleh gambaran untuk mengidentifikasi komponen-komponen biaya apa saja yang harus dimasukkan di dalam rencana anggaran biaya yang sedang disusun dengan mempelajari seluruh dokumen perencanaan.
Kemudian biarkan pihak lainnya yang terkait untuk menelaah apa yang telah Anda selesaikan dan berikan prakiraan Anda untuk hal-hal telah identifikasi atau memasukkan komponen anggaran biaya berdasarkan keinginan mereka.
Tips:
Tanyakan kepada seluruh pemegang kebijakan atau anggota tim yang memiliki pengalaman kerja pada proyek-proyek yang sesuai sehingga saat membantu dalam memastikan bahwa Anda tidak melewatkan hal penting apapun sehingga membuat proses tersebut berjalan lebih cepat.
Berikut ini adalah daftar beberapa komponen anggaran biaya yang dapat membantu Anda mengindentifikasi keberadaannya dalam dokumen rencana anggaran biaya yang Anda susun.
Anda dapat menggunakan daftar berikut sebagai daftar periksa (check list) untuk mengelola kegiatan-kegiatan di masa depan, memasukkan komponen yang biasa digunakan dalam alokasi anggaran yang dibutuhkan.
Daftar tersebut berisikan informasi-informasi sebagai berikut:
1. Honor tim kerja kegiatan
2. Pembelanjaan material dan peralatan
3. Biaya sewa atau kredit untuk fasilitas yang diperlukan
4. Biaya pemasaran, dimana dalam hal ini termasuk juga focus group dan riset pasar.
5. Biaya legalitas
6. Biaya perjalanan dinas
7. Biaya iklan/promosi
8. Biaya riset dan pengembangan
9. Biaya studi kelayakan
10. Layanan konsultansi dari para partisipan proyek atau subject matter expertise (SME)
11. Biaya sewa bulanan telekomunikasi (fax, telepon, internet)
12. Alat tulis kantor dan bahan habis pakai
13. Biaya website hosting
14. Software
15. Hardware
16. Training
1. Teknik Menyusun Prakiraan (Estimating Techniques)
Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyusun prakiraan anggaran biaya yang terdiri atas:
1. Teknik Prakiraan Atas ke Bawah (Top-Down Estimating)
Teknik Top-Down Estimating ini sebelumnya dikenal sebagai prakiraan menggunakan analogi (analogous estimating).
Sebenarnya teknik Top-Down Estimating ini berangkat dari kondisi bagaimana menggunakan biaya yang sudah dipatok untuk mengerjakan seluruh aktivitas/proyek yang sudah ditentukan.
Dalam menggunakan teknik ini diperlukan seorang penaksir (estimator) yang memiliki banyak pengalaman dengan proyek yang setidaknya minimal memiliki ruang lingkup dan ukuran yang sama sebelumnya.
Secara prinsip, teknik ini dapat berhasil untuk proyek-proyek kecil atau individual. Untuk mencapai hasil terbaik, sebaiknya teknik ini dikombinasikan dengan teknik yang akan dibahas selanjutnya yaitu Bottom-Up Estimating.
2. Teknik Prakiraan Dari Bawah ke Atas (Bottom-Up Estimating)
Secara prinsip teknik Bottom-Up Estimating merupakan kebalikan dari teknik Top-Down Estimating.
Teknik Bottom-Up Estimating memerlukan prakiraan anggaran untuk setiap pekerjaan atau penugasan secara individual yang kemudian dilakukan kalkulasi total yang menghasilkan nilai prakiraan rencana anggaran biaya keseluruhan.
Untuk memahami hal tersebut dapat diberikan contoh gambaran sebagai berikut:
Setiap tugas yang telah disusun dalam rincian paket pekerjaan telah diperkirakan beban dan ruang lingkupnya.
Kemudian prakiraan ini dimasukkan ke dalam prakiraan di tingkat yang lebih tinggi hingga dapat diketahui beban seluruh prakiraan proyek.
Kombinasi antara Bottom-Up Estimates dan Top-Down Estimates secara khusus sangat berguna digunakan dalam proyek-proyek besar.
Kombinasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik Top-Down Estimates untuk mengukur keseluruhan beban pekerjaan yang kemudian dipecah-pecah menjadi paket-paket aktivitas tugas/pekerjaan dengan menggunakan teknik Bottom-Up Estimates.
3. Menggunakan Software Bantu Komputer (Computerized Tools)
Anda dapat menggunakan beberapa aplikasi perangkat lunak komputer khusus yang digunakan untuk membantu dalam manajemen proyek.
Aplikasi perangkat lunak komputer khusus manajamen proyek tersebut dapat membantu Anda dalam memperkirakan besaran biaya pada daftar tugas yang terdapat dalam jadual proyek.
Aplikasi perangkat lunak komputer khusus manajemen proyek tersebut dapat secara otomatis melakukan perhitungan total biaya proyek untuk Anda.
Namun sebaiknya Anda tetap menggunakan aplikasi program spreadsheet seperti MS-Excel untuk menyempurnakan hasil perhitungan menggunakan software manajemen proyek tersebut.
Hal ini dilakukan dengan menyusun daftar seluruh komponen anggaran biaya dalam satu kolom dengan biaya-biaya yang terkait di bagian yang lain.
4. Tanya Ahlinya (Ask the Experts)
Hal penting yang sering dilupakan oleh banyak manager IT dalam menyusun anggaran biaya divisinya adalah tidak berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkompeten dengan kebutuhan penyusunan anggarannya.
Melakukan wawancara bekerja sangat baik dalam menyusun prakiraan pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Lakukan wawancara dengan para stakeholder, subject matter experts (SME), vendor dan anggota tim proyek yang sudah memiliki pengalaman sebelumnya dalam pekerjaan yang sedang Anda taksir.
Seringkali para manajer fungsional yang kebetulan pernah menggunakan layanan pihak ketiga yang terkait dengan pekerjaan yang sejenis, memiliki prakiraan yang tepat, proporsional dan siap untuk digunakan.
Teknik lainnya yang sangat bermanfaat adalah melakukan pemanfaatan ulang atas dokumen-dokumen yang secara historis terkait dengan proyek yang ingin Anda laksanakan.
Dokumentasi-dokumentasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya dapat memberikan referensi mengenai besaran biaya dan kompleksitas pekerjaan untuk komponen-komponen kegiatan sejenis dalam proyek yang sedang Anda rencanakan.
Teknik ini sangat hebat dalam memberikan perbandingan yang cukup obyektif sebagai acuan dalam melakukan perkiraan kegiatan dan biaya.
5. Tanyalah Para Vendor (Ask the Vendors)
Bagaimanapun juga, informasi biaya yang terkait dengan harga suatu produk barang dan jasa selalu dihubungkan secara obyektif dengan daftar harga yang dikeluarkan oleh para produsen/vendor.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menghubungi bagian pengadaan di lembaga Anda. Mereka kemungkinan besar memiliki daftar para produsen/vendor yang menerbitkan panduan harga mengenai suatu produk.
Panduan harga tersebut dapat dijadikan referensi dan dapat digunakan sebagai dasar prakiraan awal untuk aktivitas proyek Anda.
Pada saat Anda memerlukan masukan mengenai informasi biaya yang terdapat dalam proyek yang sedang direncanakan dari para vendor, pastikan untuk selalu mencari informasi tidak hanya dari satu vendor.
Carilah informasi ke beberapa vendor dengan latar belakang sama sehingga Anda dapat melakukan verifikasi silang atas informasi yang diberikan oleh mereka.
Berhati-hatilah karena beberapa vendor kemungkinan besar memberikan prakiraan biaya yang lebih rendah dari biasanya karena berharap akan menjalin hubungan kerjasama dengan Anda di kemudian hari.
Selain itu mereka mungkin akan menggunakan proyek yang sedang Anda susun sebagai pilot-project untuk dipergunakan di entitas bisnis yang sejenis dengan lembaga Anda.
Sebaiknya hal-hal tersebut selalu Anda ingat saat sedang membandingkan beberapa prakiraan biaya yang disampaikan oleh beberapa vendor.
Selain itu pastikan bahwa setiap vendor yang Anda hubungi memiliki pemahaman yang sama mengenai kebutuhan (requirements), kesimpulan (assumptions) serta waktu pengiriman produk.
Jika prakiraan yang Anda terima lebih tinggi dari batas anggaran biaya yang telah ditetapkan oleh lembaga, mintalah diskon kepada para vendor tersebut.
Langkah terakhir yang dapat Anda lakukan adalah selalu meminta para vendor menyampaikan informasi prakiraan biayanya secara resmi dan tertulis.
Hal tersebut sangat membantu Anda dalam melakukan penyusunan prakiraan saat menyusun rencana proyek maupun saat dilakukannya evaluasi.
2. Memperkirakan Biaya dan Penyempurnakan Anggaran (Estimating Costs and Finalizing the Budget)
Pertanyaan yang hampir seringkali disampaikan oleh jajaran manager eksekutif adalah, “Seberapa besar kegiatan ini menelan biaya?”
Nah, sekaranglah kita akan berdiskusi mengenai apa yang dapat memoles anggaran dan strategi untuk menyusun anggaran yang sesuai serta efektif.
Hal-Hal yang Harus Ditanyakan (Questions to Ask)
Saat Anda telah melengkapi seluruh komponen biaya dari Draft Awal Rencana Anggaran berikut angka-angkanya maka Anda pasti menginginkan dokumen tersebut lebih dimatangkan dengan menanyakan beberapa pertanyaan.
Anda tentunya ingin memastikan bahwa seluruh item anggaran telah diidentifikasikan dan seluruh prakiraan telah direkam secara akurat dalam dokumen tersebut.
Terkait dengan hal tersebut maka berikut ini adalah daftar pertanyaan yang dapat membantu Anda menyelesaikan tugas tersebut:
1. Apakah prakiraan anggaran biaya untuk gaji dan biaya jasa pihak ketiga (kontraktor) realistis?
2. Bagaimana Anda akan membandingkannya dengan proyek-proyek yang memiliki kesamaan ruang lingkup dan ukuran yang telah dilaksanakan sebelumnya?
3. Apakah prakiraan seluruh material dan pasokan telah diperiksa keabsahannya oleh bagian pengadaan atau bagian lain yang terkait? Sebagai tips, sebaiknya libatkan pihak lain untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap prakiraan tersebut. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat memberikan pandangan yang lebih obyektif terhadap prakiraan yang telah kita buat, apakah sudah lengkap maupun angkanya terlalu tinggi/rendah.
4. Periksa ulang apakah permintaan atas komponen biaya yang terdapat dalam rencana anggaran memang mutlak diperlukan dalam mensukseskan penyelesaian atas proyek/kegiatan Anda.
Periksalah biaya-biaya yang mungkin terkait dengan pembelian/pengadaan suatu item barang/jasa. Misalkan Anda mengadakan aplikasi software yang mungkin dikenakan biaya tambahan untuk upgrade di kemudian hari. Mungkin saja hal tersebut tidak diperhitungkan sewaktu kegiatan/proyek dilaksanakan namun ternyata dikenakan oleh vendor setelah barang dikirim. Oleh karena itu selalu pastikan hal-hal yang terkait dengan SLA (services level agreement) dengan vendor saat melakukan pemesanan.

Anggaran TI (Information Technology Budgeting) 1


Masalah anggaran biaya penerapan teknologi informasi (information technology implementation budgeting) atau biasa disingkat menjadi Anggaran TI (IT Budgeting) seringkali disusun paling akhir dalam persiapan Manajemen Proyek.
Dimana sering dijumpai bahwa hampir di kebanyakan milestone dalam proses perencanaan proyek, anggaran (budget) adalah dokumen perencanaan yang terakhir dibuat.
Sekalipun Anda bekerja dalam proyek dimana biaya dapat dikatakan tidak terbatas, penyusunan anggaran adalah hal penting yang harus dipelajari dan diterapkan.
Dalam bagian selanjutnya dari topik ini akan dibahas mengenai komponen-komponen biaya yang ada dalam anggaran, menelusuri anggaran dan menetapkan garis dasar biaya yang dikeluarkan.
Para pemegang kebijakan dalam organisasi Anda tentunya ingin mengetahui tentang biaya proyek sekalipun Anda selalu berada dalam jalur yang terkendali berdasarkan prakiraan-prakiraan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Informasi dan pengetahuan ini menjadi sangat penting bagi para pemegang kebijakan sebagai acuan terhadap seluruh anggaran proyek di masa depan sehingga Anda memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dengan memperkirakan, menelusuri dan melaporkan anggaran proyek implementasi teknologi informasi yang Anda kelola.
Maka dalam topik ini kita bersama-sama akan mendiskusikan apa yang telah dilakukan sejauh ini dan mendokumentasikan hal tersebut sebagai rencana proyek resmi.
Dalam topik ini kita akan membahas mengenai hal-hal berikut:
1. Komponen Penganggaran
2. Teknik Menyusun Prakiraan (Estimating Techniques)
3. Menyusun Prakiraan Biaya (Estimating Costs)
4. Beberapa Tips Ringkas Penyusunan Anggaran
1. Komponen Penganggaran
Anggaran Proyek akan digunakan sebagai pengingat/kontrol proyek dalam menelusuri pembelanjaan dan pengukuran atas biaya yang nyata dikeluarkan dalam aktivitas proyek yang akan disilangkan dengan prakiraan biaya yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Anggaran Final akan memberikan gambaran yang didasarkan pada prakiraan yang diajukan oleh tim proyek, pemegang kebijakan, vendor perangkat dan pihak lainnya yang terkait yang dapat ditinjau ulang dengan hati-hati dalam dokumen-dokumen perencanaan proyek.
Sebelum kita membahas mengenai penyusunan anggaran teknologi informasi, sebaiknya pemahaman mengenai anggaran itu sendiri dapat kita satukan dalam satu definisi.
Dalam posting ini, anggaran didefinisikan sebagai berikut:
Daftar seluruh komponen alokasi pembiayaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dari sebuah proyek
Secara umum, berdasarkan struktur organisasi dan tata kerja yang lazim terdapat di banyak lembaga, Manajer Proyek dan/atau Manajer Keuangan adalah pihak yang bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran.
Komponen-Komponen Pembiayaan Proyek (Project Costs)
Beberapa komponen yang dibahas dalam materi ini diterapkan di banyak proyek dengan berbagai jenis kegiatan.
Sebagai contoh adalah gaji/honor, suplai kantor dan pemakaian telepon adalah komponen-komponen biaya yang hampir selalu terdapat dalam pembiayaan proyek.
Secara garis besar, komponen-komponen pembiayaan proyek diklasifikasikan dalam tiga kelompok utama yaitu:
1. Biaya Sumber Daya Manusia (Human Resources Costs)
Biaya Sumber Daya Manusia (Human Resources Costs) biasanya dikaitkan dengan pengeluaran yang harus dibelanjakan untuk seluruh anggota tim proyek.
Pembelanjaan tersebut meliputi honor/gaji dan tunjangan tambahan seperti lembur, asuransi tenaga kerja, asuransi kesehatan, dsb.
Honor atau contracting fees untuk setiap sumber daya manusia yang terlibat dapat menjadi pengeluaran terbesar jika Anda merekrut mereka sebagai pegawai yang bekerja secara intensif dalam proyek.
Sebagai contoh dalam proyek implementasi teknologi informasi secara umum memerlukan dukungan sumber daya manusia dengan keterampilan/keahlian yang spesifik.
Keterampilan/keahlian yang spesifik ini tentunya memiliki harga yang seringkali bernilai tinggi yang menyebabkan anggaran teknologi informasi yang Anda kelola mayoritas dialokasikan dalam pos tersebut.
Sekalipun proyek tersebut dimiliki oleh suatu lembaga nirlaba yang menggunakan personil-personil yang secara sukarela bergabung untuk mengerjakannya sehingga dapat menekan anggaran secara signifikan, Anda tetap berpeluang untuk mengeluarkan biaya cukup besar untuk tenaga ahli pendukung, kontraktor, manajer proyek, dsb.
Peringatan:
Pengeluaran untuk kontraktor atau pegawai adalah komponen biaya yang paling besar menghabiskan dana.
2. Biaya Administratif (Administrative Costs)
Biaya Administratif (administrative costs) adalah komponen biaya yang dikelompokkan sebagai biaya rutin harian yang dikeluarkan untuk mendukung pelaksanaan proyek.
Namun komponen biaya administratif tidak secara khusus ditujukan pada pekerjaan-pekerjaan tertentu saja yang ada dalam kegiatan proyek.
Komponen biaya administratif ini antara lain adalah:
1. Biaya telekomunikasi
2. Penggandaan dokumen
3. Penyediaan alat tulis kantor
4. Penyusunan dokumentasi proyek
5. Dsb.
Gambaran lainnya yang dapat menjelaskan mengenai biaya administratif ini adalah kebutuhan ruangan kerja maupun rapat yang diperlukan oleh anggota tim kerja proyek.
Tentu saja hal tersebut berdampak pada kebutuhan ruangan kerja maupun rapat yang harus disediakan melalui sistem sewa, sewa-pakai, cicilan, dsb.
Sekalipun ruangan gedung yang digunakan untuk pelaksanaan proyek dibeli atau disewa-pakai khusus dalam mendukung kegiatan tersebut, komponen pembelanjaan tersebut sebaiknya dikelompokkan sebagai biaya administratif proyek.
3. Biaya Proyek atau Sumber Daya (Resources or Project Costs)
Biaya Proyek atau Sumber Daya (Resources or Project Costs) dikelompokkan sebagai material yang diperlukan untuk tugas-tugas spesifik dalam kegiatan proyek, penyewaan-pakai peralatan, sewa jalur telekomunikasi jarak jauh, biaya perjalanan, dsb.
Biaya-biaya tersebut secara spesifik ditujukan untuk proyek yang sudah ditentukan. Hal tersebut dapat dicontohkan seperti pada saat akan membangun jalur sistem jaringan komunikasi data elektronik.
Pada saat membangun infrastruktur perangkat keras sistem jaringan komunikasi data elektronik tersebut, misalkan diperlukan menyewa alat-alat berat yang digunakan dalam proses konstruksi perangkat.
Maka dari gambaran tersebut terlihat bahwa biaya sumber daya biasanya muncul saat proyek fisik yang terkait dengan pembangunan infrastruktur tertentu.
Oleh sebab itu maka dalam menentukan prakiraan besaran biaya yang harus dikeluarkan pada saat eksekusi proyek memerlukan riset yang menyeluruh dan berdasarkan data termutakhir.
Melakukan pengujian terhadap seluruh kategori dari biaya proyek/sumber daya akan membantu Anda mengidentifikasi komponen anggaran proyek tersebut.

ERP - Aplikasi Enterprise

Enterprise Aplikasi “Integrasi Sistem-Sistem Informasi”


Definisi
Sering direpresentasikan dengan Sistem Informasi Enterprise (SIE)
  • Kumpulan sistem-sistem informasi yang terintegrasi dan bertujuan mendukung kegiatan-kegiatan institusi sebagai sebuah enterprise
  • Contoh: Enterprise Resource Planning (ERP), sistem-sistem legacy, sistem-sistem transaksional
Ciri : tingkat keterpaduan (integrasi) yang tinggi untuk mengakomodasi kebutuhan data/informasi yang terpadu pula

Motivasi untuk Integrasi

  • Disebuah Toko : Seorang pelanggan memesan barang secara manual. Pesanan ini dicatat, kemudian diproses secara manual pula dari satu bagian ke bagian yang lain. Data pesanan dientry setiap kali berpindah ke bagian lain, menimbulkan problem antara lain adalah kesalahan entry data, atau bahkan hilang di tengah perjalanan. Sering kali pesanan ini tertunda pemenuhannya.
  • Dis sebuah kantor pemerintah : Seorang warga memerlukan layanan yang harus ditempuh dalam beberapa tahap, melalui beberapa bagian. Idealnya, warga dapat melacak sejauh mana proses layanannya sudah berjalan, tetapi pada umumnya jawaban yang didapat bersifat negatif (mis: tidak tahu sekarang prosesnya sedang berada di mana).
 
Contoh: pemenuhan order dari pembeli

Pelanggan dan pemakai melihat layanan sebagai satu entitas yang utuh (tidak dapat dipisahkan/dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil)
  • Pemakai tidak akan melihat prosedur, langkah, komponen, dan detil implementasi di balik sebuah layanan
  • Pemakai tidak bisa menoleransi “keberhasilan parsial” (diimplementasikan secara parsial, atau dilaksanakan dengan hasil yang tidak memuaskan) dari sebuah layanan
  • Pemakai mengasosiasikan sebuah layanan terhadap keseluruhan organisasi (kantor, perusahaan, dsb) Contoh: seorang petugas layanan pelanggan benar-benar merepresentasikan organisasi tempat dia bekerja 
  • Contoh-contoh sebelumnya menunjukkan bahwa tidak cukup hanya memiliki sistem-sistem informasi di bagian-bagian dari kantor atau perusahaan
  • Muncul jenis kebutuhan baru terhadap ketersediaan data/informasi yang Terpadu dan Berlaku di seluruh organisasi (kantor, perusahaan, dsb)
 
Mengapa Integrasi Penting ?
 

Jika A, B, C, dan D terpisah, maka a, b, c, dan d hanya dapat diperoleh satu demi satu, dan penyusunannya untuk membentuk E hanya bisa dilakukan secara manual.
 

 
Biasanya sulit untuk membuat atau mengidentifikasi informasi komposit yang terbentuk dari relasi-relasi antara dua atau lebih sistem informasi.

 
Integrasi dalam Enterprise Computing
 
Tantangan integrasi dalam enterprise computing
  • Lingkup domain permasalahan yang luas (keuangan, personalia, produksi, pemasaran, …)
  • Back-end SIE yang kompleks (variabilitas dalam business logic, model pemrograman, dsb)
  • Penanganan transaksi dan security yang rumit
  • Format komunikasi/pertukaran data yang berbeda
 
Pendekatan “Total & Homogen”

Dianut oleh vendor-vendor besar (SAP, dsb)
  • Integrasi harus dilakukan pada setiap aspek dalam organisasi/bisnis (personalia, keuangan, produksi, pemasaran, inventory, …), dan didorong oleh satu kerangka pandang yang standar (standar bisnis atau penyediaan layanan)
  • Dengan pendekatan total & serentak, diharapkan integrasi dapat dilakukan secara lebih mudah karena homogenitas komponen-komponen sistem dapat terjaga
Pada umumnya tidak cocok untuk organisasi kecil atau yang tingkat kematangan TI-nya belum tinggi, karena:
  • Mahal (US$ 150.000 untuk implementasi SAP bagi UKM)
  • Memerlukan waktu lama, terutama karena belum mantapnya sistem-sistem informasi yang akan diintegrasikan
  • Tetap saja ada detil-detil kecil yang tidak tercakup oleh aplikasi integrator  karena proses-proses bisnis yang “tidak standar”
 
Pendekatan Bertahap
  • Mulai dari bawah (bottom-up), dengan memperhatikan kondisi saat ini (existing condition)
  • Integrasi dimulai dengan “merangkai” sistem-sistem yang ada menuruti pola/arsitektur integrasi yang juga bisa berkembang
Kelebihan: 
  • Murah
  • Benar-benar berangkat dari kondisi yang ada
Kelemahan:
  • Bisa memerlukan waktu yang lama (atau bahkan gagal) jika tidak berdisiplin dalam bergerak ke atas
  • Solusi yang diperoleh cenderung ad-hoc (temporer) dan tidak mengikuti standar
 
Contoh Kasus: Integrasi di Bidang Akademik (di Perguruan Tinggi)
 

 
Strategi Integrasi (1)

Integrasi harus didasarkan pada sasaran yang jelas. Pada akhirnya integrasi harus bermuara pada perbaikan proses/layanan
  • Fokus pada proses-proses bisnis/birokrasi, bukan pada sistem-sistem informasi
  • Secara spesifik perhatikan alur-alur yang terbentuk dari rangkaian aktivitas. Contoh: sistem layanan keluhan masyarakat (UPIK Pemkot Yogyakarta) keluhan masyarakat - UPIK - tanggapan - UPIK -  jawaban kepada masyarakat
Strategi Integrasi (2)
 
Identifikasi pihak-pihak yang terlibat: peran, tugas, kewenangan, dan aktivitas yang dilakukannya - rangkailah semua ini ke dalam alur yang telah ditetapkan

Kesamaan pandangan terhadap integrasi perlu dibangun

Dukungan perlu disiapkan
  • Tatakelola: tupoksi, legalitas, …
  • Sumber daya: SDM, pendanaan, infrastruktur

Strategi Integrasi (3)
Integrasi sistem-sistem informasi
  • Jika belum ada sistem informasi sama sekali, berbagai parameter integrasi (format data, protokol komunikasi data, database, user interface, dsb) bisa ditetapkan secara lebih mudah
  • Jika sudah ada sistem-sistem sebelumnya (dan saling berbeda):
  1. Memilih salah satu sistem dan mempromosikannya sebagai sistem standar; sistem-sistem lain harus mengikuti
  2. Membangun standar baru dan memaksa semua sistem harus mengikuti standar ini
  3. Membangun standar baru dan membiarkan semua sistem lama seperti apa adanya; integrasi dilakukan oleh sebuah sistem pengintegrasi